BERDOA BERSAMA FREUD

Jum`at, 23 Januari 2009 08:39:29 Oleh : admin

“Berdoa bersama Freud?" Spontan mungkin orang bertanya-tanya apa maksud judul di atas. Yang jelas, nuansa dari judul tersebut tidak dimaksudkan untuk menampik kehendak bebas seorang Freud yang memilih atheis dalam olah pemikiran dan keyakinan personalnya. Sama sekali tidak ada kaitan dengan hal itu. Namun sebaliknya, “Berdoa bersama Freud…”, bagi saya, justru merangkum satu dinamika olah diri mendekat dan masuk ke dalam dua wilayah asing, ya perutusan studi psikologi itu sendiri dan juga konteks budaya barat yang menjadi background aktivitas studi, yang nantinya, akan berorientasi pada guliran pastoral keilmuan dalam wawas kemasadepanan ‘Gereja yang membumi, mengair, dan mengudara’. 

    Secara kronologis, tentu saja seluruh kisah ini bermula dari peristiwa tahbisan imam, di mana saya dikukuhkan sebagai imam diosesan bagi Keuskupan Purwokerto, 21 Juli 2004 lalu. Sejak saat itulah saya menghayati diri sebagai pribadi yang akan seterusnya membaktikan diri secara utuh pada Gereja dan siap untuk menerima perutusan apapun seturut dengan kebutuhan, opsi, dan gerak keuskupan. Entah sampai pada tingkat langit yang ke berapa semangat pemberian diri saya itu dilesatkan oleh kekuatan rahmat tahbisan, he…he… Pengalaman ini kok rasanya klop dengan refleksi St. Paulus terkait dengan bejana tanah liat dan kekuatan Allah yang berlimpah (lih. II Kor. 4 : 7).
      Rencana Tuhan itu indah! Begitulah ungkapan syukur saya mengemas rangkaian pengalaman perutusan pertama sebagai pastor pembantu di Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto. Sungguh saya bersyukur bisa mengawali kehidupan sebagai imam dalam suasana komunitas pastoran yang begitu hangat, komunikatif, dan sangat meneguhkan. Bahkan dalam aneka dinamika parokial, tidak jarang saya, biarpun sebagai imam baru, diberi kepercayaan dan tanggung jawab penuh untuk membidangi suatu kegiatan. Dalam kaca mata sekarang, masa-masa indah meski hanya 2 tahun 8 bulan itu menjadi pupuk yang subur bagi kesuburan tanaman imamat saya, terlebih terkait dengan cara memawas kehidupan komunitas yang nyaman, menjadi pribadi yang peka dan berarti bagi rekan imam, menghidupi imamat dalam geliat dinamika pastoral, dan lain sebagainya.
    Agustus 2006 adalah awal dari pergulatan saya saat ini. Malam itu, Bp. Uskup berkunjung ke kamar saya. Dengan bahasa Jawa yang halus, beliau menyampaikan bahwa untuk saat ini saya sudah dirasa cukup mempunyai pengalaman sebagai imam di paroki dan saya diminta mempersiapkan diri untuk perutusan yang lain, yakni studi lanjut di bidang psikologi di Perancis. Malam itu tentu saja menjadi malam yang mengejutkan sekaligus menggelisahkan bagi saya karena tepat pada saat itu saya dihadapkan pada cermin diri saya sebagai imam yang masih muda, baik secara usia (waktu itu masih 29 tahun) maupun umur tahbisan (masih balita-bawah lima tahun), yang merasa masih membutuhkan pendampingan dari rekan imam lain yang lebih senior.
Akhirnya, Februari 2007, setelah ada kejelasan terkait dengan segala persiapan administratif untuk tinggal dan studi di Perancis dan juga berkat peneguhan dari rekan-rekan imam, saya berangkat ke Jakarta untuk mendasari diri dengan bahasa Perancis di Centre Culturel Français Salemba. Pada saat itulah saya memulai menyelaraskan diri dengan corak dan ritme kehidupan baru ala Jakarte dengan segala gerlap ciri metropolitan sampai dengan kegerahan karena suhu yang panas, polusi udara, dan kemacetan lalu lintas yang menggila. Perubahan situasi dan dinamika baru tersebut menghantar saya masuk dalam situasi kesendirian. Saya kesepian! Namun demikian, pengalaman tinggal di Wisma UNIO Indonesia selama 6 bulan juga memberi warna tersendiri dalam perjalanan imamat saya, di mana justru sejak saat itu, tanpa sadar, wawasan akan realitas Gereja yang lebih luas (tidak hanya seputar keuskupan saya saja) ‘dikenalkan’ dalam kesempatan asistensi di paroki-paroki KAJ ataupun misa-misa keluarga. Perjumpaan dengan para imam yang tinggal maupun yang sekedar transit di Wisma UNIO juga memberi sumbangan khusus, terlebih terkait dengan pengalaman studi lanjut yang sudah mereka jalani ataupun cerita pastoralia di wilayah kerja mereka masing-masing. Sejenak menengok ke belakang, kok rasa-rasanya pengalaman tinggal di Jakarta menjadi bagian yang indah dalam hidup saya di mana sedikit demi sedikit saya dipersiapkan masuk dalam lingkup dunia yang lebih meluas.

Paris, je t’aime
    Tanggal 23 Agustus 2007, saya meninggalkan Indonesia. Perjalanan panjang 14 jam menjadi saat pengolahan rasa kehilangan dan jauh dari keluarga, rekan-rekan imam, dan keuskupan saya. Sampai akhirnya setiba di Paris, saya memantapkan diri: satu lagi babak baru dalam kehidupan saya dimulai! 
    Minggu-minggu awal di Paris, saya juduli orientasi lingkungan, alias jalan-jalan sambil mengenang komentar orang-orang pada saya sebelum saya berangkat ke Paris: “Waaah, Romo mau sekolah di Paris yah? Duuuh senengnya Paris-kan kota yang romantis banget!” Ada juga yang berkomentar: “Romo mau ke Paris ya, tolong dong Mo, cariin bule buat aku!” Ada juga yang bilang begini: “Eh Romo, titip carikan pekerjaan ya, khan kerja di sana mantap, gajinya pakai euro!” Entah apa yang ada dibenak mereka. Semoga saja ungkapan-ungkapan itu tidak menjadi ‘gelar’ baru buat saya sebagai « imam plus », ya sebagai imam tetapi juga agen pencari jodoh ataupun biro kerja, hahaha…
    Kota Paris memang indah! Tata kotanya begitu bagus. Berbagai tempat peninggalan sejarah begitu terawat dan terjaga kelestariannya. Bahkan lebih dari itu, sarana-sarana publik begitu diperhatikan kenyamanannya seperti taman-taman kota dan juga aneka transportasi umum yang sungguh-sungguh mempermudah mobilitas orang. Semua itu tentu menjadi daya tarik tersendiri dan tidak mengherankan kalau tiap harinya ada ribuan tourist yang datang. Kapan ya Indonesia bisa seperti itu? Padahal dari SDA, Indonesia jauh lebih kaya. Yah, mungkin butuh waktu untuk sampai ke sana sebagaimana Perancis pun membutuhkan puluhan abad untuk sampai pada keadaan seperti sekarang ini. Hhmm…semoga ini menjadi bentuk peneguhan bagi para pembaca bahwa : KITA BISAAA !!!!!

Di tengah persimpangan
    "Métro, boulot, dodo". Ini adalah slogan « parisiens » ( : orang-orang Paris) yang artinya: "métro, kerja, tidur". Slogan populer ini mempresentasikan aktivitas harian orang-orang Paris: pagi-pagi berangkat kerja/sekolah dengan ‘métro’ (: kereta bawah tanah), bekerja sampai sore/malam, dan pulang untuk tidur setelah lelah kerja seharian. Begitulah dalam perjalanan waktu saya masuk dalam ritme kehidupan ala parisiens. Sampai akhirnya terbangun satu keyakinan bahwa Paris itu indah bagi pelancong yang datang untuk beberapa waktu saja, tapi tidak bagi yang tinggal dalam kurun waktu yang lama. Benturan perilaku karena perbedaan budaya seringkali membawa pada rasa perasaan sendirian. Perjumpaan dengan wajah-wajah ‘dingin’ dan tidak peduli satu dengan yang lain seringkali memprovokasi kerinduan saya untuk bisa cepat-cepat mengalami kembali keramahan dan kepedulian orang-orang di negeri saya. Pernah suatu kali di dalam métro saya memberikan tempat duduk saya pada seorang ibu tua. Bagi saya, dan tentunya kita orang Indonesia, sikap seperti itu adalah keutamaan yang lumrah, wajar sekali untuk dilakukan bahkan tidak perlu menunggu argumentasi rational kinerja otak. Namun, ketika saya melakukan hal tersebut, mata orang-orang memandang saya dengan pandangan yang sangat asing karena telah bertindak ‘aneh’ menurut benak mereka. C’était incroyable! Masih banyak peristiwa ‘aneh’ lain. Namun semua itu saya maknai sebagai salah satu bagian dari masa adaptasi saya dalam usaha bisa menerima sepenuhnya lingkup budaya di mana saya tinggal.
    Saya lewati satu tahun babak kehidupan baru di Paris dengan studi bahasa Perancis di Institut Chatolique de Paris. Perkenalan dengan teman-teman dari berbagai negara di kelas bahasa sungguh menjadi pengalaman internasional yang baru dalam kehidupan saya. Perjumpaan dengan dunia yang lebih luas menjadi bentuk formasi baru bagi saya, terlebih untuk berani menerima perbedaan cara pandang, cara pikir, dan cara bersikap.
    Apa yang kita pikir seringkali berbeda dengan kenyataan. Di tengah studi bahasa, saya mendapati satu kenyataan yang benar-benar di luar dugaan. Sebelum berangkat ke Paris,  saya pikir perihal kuliah psikologi sudah siap semuanya, alias saya tinggal masuk dan mengikuti kuliah seperti yang saya dengar dari cerita-cerita beberapa teman yang pernah studi lanjut. Eh ternyata saya dihadapkan pada situasi yang lain di mana saya pun dituntut proaktif untuk mencari sekolah sendiri. Di sela-sela waktu luang studi bahasa, berbekal alamat yang saya peroleh dari internet, saya datangi Université René Descartes, yang akrab disebut sebagai Universitas Sorbonne - Paris V, yang konon kabarnya mempunyai fakultas psikologi tertua di France. Meski masih berbekal bahasa Perancis yang nunak-nunuk (karena baru belajar 5 bulan), tetapi karena tuntutan keadaan, saya harus pergi ke kantor sekretariat di universitas itu dan tentu dengan satu trick khusus. Sebelum masuk kantor sekretariat, saya kenakan callcard yang sudah saya persiapkan bertuliskan : « Je suis étranger. Je suis en train d’étudier le français. Parlez lentement, s’il vous plaît. Merci beaucoup», yang artinya : "Saya orang asing. Saya sedang belajar bahasa Perancis. Mohon bicara pelan-pelan. Terima kasih banyak”. Waaaah, ternyata cara itu benar-benar mujarab! Saya langsung disambut dengan senyum. Tentu bukan karena saya ini siapa, tetapi karena membaca tulisan di callcard yang menempel di dada kiri saya, hahaha… Yah mungkin ini terkesan agak sableng atau malah memelas, tapi buat saya begitulah Tuhan menganugerahkan daya kreativitas dalam diri manusia agar bisa melewati ‘situasi sulit’ dalam kehidupannya. Proses perbincangan pun berjalan dengan lancar, bahkan saat itu juga saya dipertemukan dengan direktur penanggung jawab fakultas dan saya diberi kartu nama beliau sambil menawarkan bantuan kalau saya membutuhkan informasi lebih lanjut. Dengan demikian, mulailah saya mempersiapkan segala dokumen yang diperlukan plus mengikuti test standar bahasa tingkat  universitas di Perancis.
    Tanggal 10 Juli 2008, saya resmi dinyatakan sebagai mahasiswa psikologi di Universitas René Descartes, Sorbonne-Paris V, bersama dengan 4000 ribu mahasiswa baru yang lain dengan prosentase 90% orang Perancis – 10% orang asing dan 90% perempuan – 10% laki-laki. Ada perasaan lega satu tahap penentu peziarahan ke depan terlewati, namun di sisi lain merasa diri kecil berhadapan dengan ‘pesaing’ lain yang cas-cis-cus ngomong Perancisnya. Yah, inilah tantangan!
    Wawasan baru dan tantangan aktual dalam lingkup akademika pun sedikit demi sedikit terbuka seiring dengan hari-hari perkuliahan yang saya jalani. Kini saya sadar bahwa saya telah masuk dalam arus deras ‘laïcité’ (gerakan ke’awam-an yang memisahkan urusan sipil dengan urusan agama) dan kuatnya gerakan anti-klerikal di Perancis, termasuk di universitas-universitas negeri. Kini saya sadar bahwa saya begitu dekat dengan lingkup pergaulan orang-orang muda Perancis yang begitu membanggakan ‘kemenangan’ revolusi sexuel – Mei 1968 yang banyak mengadopsi ide Freud. Kini saya sadar bahwa saya berada dalam situasi bangsa yang selalu ‘bergejolak’, yang ditandai dengan intensitas demonstrasi di setiap harinya. Pada akhirnya, "Berdoa bersama Freud…" tetap menjadi satu pilihan sadar bagi saya untuk tegar dan setia dalam perutusan di tengah persimpangan keilmuan dan budaya dalam wawas kemasadepanan ‘Gereja yang membumi, mengair dan mengudara’.


Salam dari Paris,
Robertus Yeppy Emmanuelle, Pr

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Formatio" Lainnya